Jalan Raya Tirtowening No.17, Bendunganjati, Pacet, Bendorejo, Bendunganjati, Kec. Pacet, Mojokerto, Jawa Timur 61374

Dewa Pencipta Realitas Sosial

Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

Dewa Pencipta Realitas Sosial

Oleh : Puji Laksono, M.Si*

Televisi disyarati oleh muatan-muatan makna ideologis tersembunyi, yang menurut Theodore Adorno muncul semata-mata melalui cara suatu acara atau iklan memandang manusia. Pemirsa dalam hal ini, diundang untuk melihat satu karakter dengan cara yang sama ia melihat dirinya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya telah terjadi indoktrinasi(Ibrahim : 1997). Televisi dengan visualisinya teknologi garfis yang sempurna, telah menjadikan suatu realitas semu seakan-akan menjadi nyata. Hal ini yang disebut oleh Bauldillard sebagai hiperreality. Penonton dibuat percaya bahwa apa yang ditampilkan di televisi merupakan realita sosial yang ada dalam kehidupan mereka.

Realitas sosial yang dimaksud adalah sebuah konstruksi pengetahuan dan/atau wacana dalam dunia kognitif yang hanya hidup dalam pikiran individu dan simbol-simbol masyarakat, namun sebenarnya tidak ditemukan dalam dunia nyata. Refleksi realitas sosial itu baru terlihat saat individu menidentifikasikan dirinya dengan lingkungan sosialnya, dalam bentuk-bentuk yang lebih kongkret terlihat di saat mereka menentukan pilihan-pilihan mereka terhadap sebuah produk untuk dicapai. Koridor inilah yang dimaksud dengan realitas yang dicitrakan media, artinya realitas citra itu hanya ada dalam media (Bungin. 2006).

Kita bisa lihat gejala mimesis (peniruan) yang dilakukan anak muda terhadap para akris yang tampil ditelevisi. Ambillah contoh tentang sebuah film drama anak muda yang menyuguhkan cerita cinta, kemewahan, kesenangan yang diperankan oleh aktris-aktrisnya. Diperankan bahwa seorang mahasiswa atau bahkan anak SMA pergi ke kampus dengan mobil mewah. Di kampus hanya menceritakan seputar cinta remaja, shoping mall, serta gaya hidup lainya yang jauh dari kenyataan sosial anak muda di masyarakat kita. Hal inilah yang kemudian mengkontruksi suatu realita sosial tentang anak muda. Seakan televisi muncul sebagai Dewa pencerahan, yang berbicara dan menyampaikan suatu sabda kepada penontonya bahwa ”Hai anak muda beginilah seharusnya kalian hidup sehari-hari, beginilah kehidupan yang ideal bagi kalian”.Atau mungkin iklan-iklan yang ditayangkan berulang-ulang, menyuguhkan berbagai produk dengan memakai aktris yang tampan atau pun cantik. Iklan susu L-Men memberikan kesan bahwa tubuh seorang laki-laki itu harus kekar, perut berbentuk, macho dan gagah. Iklan pelangsing tubuh perempuan memberikan kesan bahwa tubuh perempuan itu harus seksi, berpayudara membuncang tinggi, perut langsing, kaki tinggi nan ramping. Kembali televisi di sini akan muncul sebagai Dewa, mongkonstruksi suatu realitas sosial tentang fisik yang ideal, dan seakan ia berbicara dan menyampaikan sabdanya bahwa “Hai laki-laki tubuh yang bagus itu seperti ini lo atau hai perempuan, tubuh yang bagus ini seperti ini lo”.

Pada akhirnya dengan tayangan-tayangan yang disuguhkan oleh televisi tersebut, secara bersamaan ia menjadi Dewa pencipta realita sosial yang secara nyata jauh dari kehidupan masyarakat. Realitas semu tersebut pada akhirnya membuat masyarakat terbawa arus untuk bergaya hidup seperti yang digambarkan oleh televisi. Suatu realita semu yang dibumbuhi dengan kesenangan-kesenangan, sehingga akan diiukuti serta merta oleh penotonnya. Selain perilaku remaja, perilaku anak-pun bisa dibentuk malaui televisi ini. Televisi yang menyuguhkan berbagai film kartun atau film-film anak-anak yang terkadang syarat akan kekerasan juga menjadikan suatu yang negatif terhadap perkembangan anak. Ketika film kartun yang popular seperti Naruto ditayangkan, ia akan menarik penggemarnya tersendiri. Si-anak akan melakukan peniruan akan sifat-sifat kekerasan yang diperagakan dalam film laga tersebut. Jika si-anak dibiarkan melihat tontonan televisi tanpa bimbingan, tentu itu akan berbahaya bagi perkembangan perilaku anak-anak.

Televisi telah menjadi berhala yang disembah oleh masyarakat tontonan. Berbagai acara yang penuh akan pesona yang memabukkan hasrat, kesenangan, kecabulan hingga kekerasan disugguhkan oleh televisi. Berbagai acara reality show, acara musik, olahraga, film-film menjadi terik tersendiri bagi perusahaan pertelevisian untuk menjaring pemirsa. Masyarakat disuguhi akan realita semu yang terus merengsek ke dalam sendi-sendi kehidupan. Tontonan gossip yang mengumbar aib para artis, tontonan relity show seperti Silet yang menyuguhkan realita secara berlebihan, acara musik seperti Dhasyat yang menyuguhkan bagaimana seharusnya dunia sosial anak muda. Semua disajikan penuh manipulasi dan pembohongan masal demi keuntungan ekonomis kapitalis. Ketika realita sosial yang dikonstruksikan televisi baik film, tontonan maupun lainya sudah teresap dalam pemikiran massa, maka otomatis keuntungan ekonomi juga akan mereka raup. Di sini televisi telah menjadi semacam alat indokrinasi, semacam alat yang menanamkan suatu kehidupan yang bersifat semu.

Televisi telah memanipulasi suatu realita sosial dengan mengeksploitasi moment yang sedang terjadi. Kemudian menyakinkan penonton bahwa apa yang dilihatnya merupakan suatu kenyataan sosial yang harus diikuti. Seperti yang dikatakan Schlesinger, Berita televisi bukanlah cerminan relitas, melainkan meletakkan realitas secara bersama-sama. Maksudnya berita bukan merupakan “jendela dunia” yang tanpa perantara, melainkan suatu representasi hasil seleksi dan konstruksian yang membentuk realitas. Pemilihan berbagai hal yang akan dimasukan ke dalam berita dan cara-cara khusus di mana suatu berita telah dipilih, maka cerita yang hasil konstruksi itu tidak pernah netral lagi. Berita itu merupakan versi tertentu dari suatu peristiwa (Barker : 2011). Dalam dunia pers, dikenal istilah “Bad News and Good News”. Good News di sini berarti adalah pemberitaan yang cenderung baik atau dibaik-baikan, dengan menimbulkan kesan kebaikan dari sesuatu yang diberitakan. Kemudian Bad News berarti kebalikanya, yaitu berita yang cenderung dijelek-jelekan, atau menimbulkan kesan kejelekan pada sesuatu yang diberitakan.

Istilah ini sering dipakai oleh para wartawan untuk mencari berita atau memberitakan sesuatu. Tuntunan dalam mencari berita adalah “Bad News Is Good News”, sehingga pemberitaan lebih condong kepada pemberian bumbu-bumbu tentang kejelekan. Berita tentang kriminal misalnya, maka akan memberikan kesan atau citraan yang sejelek-jeleknya. Meskipun mungkin objek yang menjadi pemberitaan tidak sejelek yang digambarkan, namun karena “Bad news is Good news” menjadi daya tarik berita, maka wartawan akan cenderung memperparah kesan jelek yang melekat pada perilaku kriminal tersebut. Seorang John Key yang tertangkap dan tertuduh dalang pembunuhan, maka yang disorot berita adalah kesan jeleknya. Untuk menambah kesan menyakinkan kepada pemirsa, maka televisi membentuk suatu realita sosial dengan gambar visual yang meyakinkan dengan diiringi bumbu-bumbu dramatisasi.

Berbeda halnya dengan prinsip “Bad News Is Good News”, televisi juga membentuk realita sosial secara “Good News”. Seperti iklan, dengan segala cara maka televisi akan menimbulkan kesan yang bagus-bagus menurut pesanan pemasan iklan. Televisi akan menayangkan sebaik mungkin citra baik dari iklan tersebut. Karena iklan merupakan sumber penghasilan dari televisi tersebut. Dari kedua perbandingan tersebut, terlihat jelas bahwa televisi menampilkan suatu realitas sosial yang telah tersetting, termanipulasi untuk suatu kepentingan tertentu. Sehingga realitas sosial yang ditampilkan oleh televisi tidak bisa netral. Televisi berusaha menggambarkan suatu realita yang menyakinkan kepada khalayak bahwa hal tersebut merupakan suatu realitas sosial yang nyata.

*Penulis adalah Dosen di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *