Jalan Raya Tirtowening No.17, Bendunganjati, Pacet, Bendorejo, Bendunganjati, Kec. Pacet, Mojokerto, Jawa Timur 61374

Narasi Fasisme Pada Layar Kaca

Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

Narasi Fasisme Pada Layar Kaca

Oleh : Puji Laksono, M.Si*

Teknologi dalam wujudnya media telah menjadi imperealis baru. Schiller (1969), mengulas kasus bahwa media cocok dengan sistem kapitalisme dunia dengan menyediakan dukungan ideologis bagi kapitalisme, dan korporasi transnasional khususnya. Media dilihat sebagai kendaraan bagi pemasaran korporat, memanipulasi penonton dan menjadikan mereka sebagai pemasang iklan. Ini beriringan dengan pengakuan atas efek ideologis secara umum di mana pesan-pesan  media menciptakan dan memaksa keterikatan penonton pada status quo. (Barker : 2011). Masyarakat modern secara sosial-politik dalam pandangan teoritis kritis, cenderung mengarah kepada bentuk totaliterisme, di mana teknologi manjadi alat pengendalian sosial, bahkan menjadi alat penindas yang ampuh.

Sistem kapitalisme di mata Herbert Marcuse cenderung bersifat represif dan totaliter. Sistem kapitalisme dalam detailnya memang terkesan serba rasional, menawarkan kemakmuran dan kehidupan yang makin enak bagi para warganya, memberikan kekuasaan yang lebih besar, serta pengaturan yang lebih efektif, efisiensi dan produktif. Tetapi bila dipandang secara keseluruhan, menurut Marcuse kehidupan masyarakat industri modern sesungguhnya irrasional, penuh dengan kepalsuan, dan manipulasi (Suyanto : 2010). Di mata teoritisi kritis, perkembangan industri kebudayaan yang melahirkan produk-produk industri budaya dan budaya massa atau budaya popular, bukan hanya dinilai sebagai hasil rekayasa kekuatan komersial yang kapitalistik, tetapi juga berdampak mengendalikan, menciptakan yang serba palsu dari pada sesuatu yang riil. Menurutnya industri-industri kebudayaan merupakan organ-organ penipu massa yang memanipulasi individu-individu untuk menerima pengorganisasian masyarakat secara umum. Dalam pandangan mereka, industri kebudayaan sedang melibatkan diri dalam bentuk indoktrinasi ideologi yang canggih dengan menggunakan hiburan untuk mempermanis penindasan sambil menggerogoti standart kebudayaan dengan tujuan menekan setiap bentuk ekspresi yang menentang tatanan yang ada.

Televisi sebagai wujud dari teknologi informasi telah menjadi satu alat pengendalian masyarakat. Iklan sebagai alat-alat kapitalisme telah mengendalikan masyarakat dalam budaya konsumerisme. Televisi menunjukan sifat-sifat fasismenya, sosok fasisme dalam diri kapitalisme cenderung menciptakan kebudayaan massa berdasarkan mekanisme kekuasaan totaliter. Di mana masyarakat dikomando dalam budaya konsumerime. Adalah Adorno yang menyamakan sitem kapitalisme dan fasisme tersebut. Keduanya menurut Adorno memiliki kesamaan yaitu merayakan insting primitif, penolakan akal sehat dan pesona akan tanda-tanda kemegahan. Hal ini identik dengan fasisme yang diamalkan oleh Hitler dan Mussolini.

Sebagai sosok fasisme dalam layar kaca, kapitalisme seakan mengontrol masyarakat secara totaliter melalui budaya konsumerisme. Dalam pemahamanya konsumerisme adalah paham, aliran atau ideologi di mana seseorang, kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Bisa juga disebut konsumtif dan gampangnya lagi apabila konsumtif tersebut dijadikan sebagai gaya hidup. Kemudian sangat ironis, bahwasanya konsumerisme cenderung mewabah di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Kapitalisme melalui televisi ini terjadi akibat derasnya persaingan industri pertelevisian dewasa ini. Kompetisi tersebut memiliki imbas ke khalayak (konsumen) ketika kemudian khalayak dibentuk oleh televisi (baca: industri) menjadi segmen-segmen yang kemudian akhirnya dijual kepada advertiser. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa kebebasan yang dimiliki oleh khalayak pada awal tumbuhnya televisi sifatnya menjadi semu, terutama karena justru posisi publik menjadi “terkontrol” oleh kepentingan dalam bentuk lain yang lebih kompleks yaitu ekonomi politik (Budi H : 2004). Masyarakat modern menurut mereka, merupakan masyarakat yang irrasional. Dalam masyarakat seperti ini, produksi sebenarnya  tidak diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, malainkan kebutuhan manusia yang diciptakan, dimanupulasi dan diproduksi.

Melalui televisi, kapitalisme memanfaatkan hasrat manusia yang tanpa batas. Iklan sepeda motor merupakan contoh yang bagus sebagai penjelasaan nyata tentang apa yang sedang menjangkit dalam masyarakat kita. Hampir setiap rumah dipastikan sudah memiliki televisi. Dalam setiap tayangannya televisi selalu menayangkan iklan dengan pengulangan yang begitu padat. Aktis Koming menjadi familiar dengan iklan sepeda motor Jupiter karena ia bisa muncul berkali-kali setiap hari. Ia menawarkan tentang suatu produk sepeda motor yang ideal bagi masyarakat terkini. Beberapa bulan kemudian ia muncul dengan iklan yang lain tetapi masih dengan produk yang sama. Di sini mayarakat setiap harinya dijejali dengan iklan-iklan yang terus menjajah dan mengeksploitasi masyarakat. Belum selesai produk yang awal, sudah muncul lagi produk yang baru.

Iklan menawarkan berbagai kebutuhan-kebutuhan semu, kebutuhan yang diciptakan, dibuat seakan-akan masyarakat memang membutuhkan produk tersebut. Masyarakat dibuat harus meng-up date kebutuhanya, ketika produk-produk yang terbaru muncul dengan keungulan-keungulan terbaru. Meskipun produk yang lama masih memadai untuk dipakai. Seperti juga kegilaan  masyarakat akan handphone. Belum habis apa yang ditawarkan oleh Dedy Corbuzer tentang handphone merk Mito yang terdahulu, sudah muncul lagi produk-produk yang terbaru yang menuntut konsumer untuk segera membelinya,  karena kebutuhan itu dibuat seakan-akan menjadi kebutuhan yang mendesak. Kata “ketinggalan zaman” menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat modern. Kita dibuat seakan-akan ketinggalan zaman jika kita tidak memiliki produk-produk terbaru dengan keunggulan yang terbaru juga. Hal ini menciptakan suatu kebutuhan semu. Kebutuhan yang tidak didasarkan atas nilai guna (use value) tetapi lebih kepada nilai tanda (sigh value).

Hasrat manusia adalah sasaran ampuh, ia menjadi bidikan kapitalisme melalui iklan. Dewa baru yang dipuja namanya “wellness”. Industri mensugestikan bahwa kita berhak atas perasaan “well”, berhak atas kebahagiaan, lalu kita dimanipulasi untuk merasa butuh produk-produk agar bisa bahagia. Hal ini oleh Franz Magnis Susesno disebut semacam fancy desire (keinginan yang bukan-bukan) (Suzeno : 2008). Kebudayaan konsumerisme yang dikendalikan sepenuhnya oleh hukum komoditi, yang menjadikan konsumer sabagai raja, yang menghormati nilai-nilai individu, yang memenuhi selengkapnya dan sebaik-baiknya kebutuhan, aspirasi, keinginan hasrat, telah memberi peluang bagi setiap orang untuk asik dengan dirinya sendiri. Maka di sini masyarakat modern telah teramanipulasi dan tertindas secara psikis oleh teknologi informasi televisi.

*Penulis adalah Dosen di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut KH. Abdul Chalim Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *