Jalan Raya Tirtowening No.17, Bendunganjati, Pacet, Bendorejo, Bendunganjati, Kec. Pacet, Mojokerto, Jawa Timur 61374

TELAAH PEREMPUAN PERSPEKTIF AMINA WADUD MUHSIN

Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

TELAAH PEREMPUAN PERSPEKTIF AMINA WADUD MUHSIN

Oleh : Eko David Syifaur Rohman
Perbincangan mengenai perempuan semakin hangat didiskusikan oleh sebagian kalangan dengan berbagai sudut pandang. Agama hadir dengan berbagai legitimasi bahwa perempuan dengan laki-laki adalah sama derajatnya dalam berbagai hal. Starting point (titiktemu) tersebut acapkali tidak disentuh kaum laki-laki yang lebih suka mengklaim bahwa perempuan adalah sosok asing yang sengaja diciptakan untuk menemani kaum Adam. Kesamaan tersebut lambat laun tergerus dengan eksistensi budaya modern. Seperti hang out di Mall besar hingga membentuk konstruksi ideologis, sosiologis maupun budaya secara universal. Perempuan, dengan sejuta kenangan keistimewaan yang diberikan oleh Allah dengan berbagai wujud serta karakter femininnya menjadi hal yang patut disyukuri. Akan tetapi, rasa syukur tersebut idealnya tidak berlebihan sehingga tidak terkesan sombong atas ciptaan yang begitu sempurna.
Laki-laki dan perempuan dalam penciptaannya acapkali dipandang sebelah mata. Ada pendapat mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Ada pula pendapat bahwa eksistensi perempuan diciptakan dari serpihan Adam tidak dimaktub dalam kitab suci al Qur’an. Kita ummat muslim sudah memahami bahwa yang menjadi titik perbedaan antara manusia dengan manusia lainnya bukan terletak pada status sosial, pekerjaan ataupun asesoris kehidupan lainnya. Tetapi, agama islam melalui kita bsuci Al Qur’an menitik beratkan serta mengatakan terang dan jelas bahwa kualitas taqwa kepada Tuhan Maha Esa yang menjadi titik perbedaan manusia dengan lainnya.
Oleh karena itu, menurut Prof Nashurudin Umar dalam bukunya Mendekati Tuhan dengan Kualitas Feminin, mengatakan persoalannya kemudian adalah penafsiran terhadap teks-teks Al Qur’an dan hadist yang berisi doktrin-doktrin hukum yang didominasi oleh kaum laki-laki sejak awal sejarah masyarakatnya telah melakukan berbagai penyimpangan dan ketidakadilan terhadap kaum perempuan.
Issu perempuan memang sangat debatable karena perspektif yang sangat luas. Banyak penelitian dari dunia akademis memperbincangkan issu tersebut mulai dengan relasi gender dengan konsepsi keadilan, redefinisi dari kaum feminis, seksualitas dengan agama, reposisi hak-kewajiban perempuan di wilayah domistik dan masih banyak lagi. Pada tulisan ini, saya hanya ingin mengulas tentang perempuan sebagai manusia utuh dalam kitab suci (Red: Al Qur’an) pun sangat dimuliakan.
Salah satu postulat-argumentatifnya tidak lain, karena eksistensi surat an-Nisa yang melambangkan bagaimana idealnya kaum laki-laki menjalankan tugas sebagai Imam dalam rumah tangga. Kalau kita menganalisa surat ke 4 dalam kitab suci tersebut, kita menemukan bahwa perempuan merupakan salah satu makhluk Tuhan yang luar biasa. Seandainya saja perempuan hanya makhluk biasa-biasa, bisa dipastikan Tuhan tidak mencantumkan istilah an-Nisa (perempuan) pada kitab suci Al Qur’an. Belum lagi ketika menelaah dengan pendekatan epistemologi sadigium Al Umm Madrastu Lil Aulaad (perempuan sebagai sekolah bagi anak-anaknya kelak). Dari sini, saya ambil titik temu bahwa perempuan makhluk yang harus dihormati seutuhnya tanpa celah sedikitpun.
Diantara diskursus perempuan/feminis yang mengguncangkan dunia akdemis karena tafsir-tafsirnya salah satunya adalah Amina Wadud Muhsin. Perempuan kelahiran Amerika Serikat yang menitik-beratkan spektrumnya pada kajian dekonstruksi-rekonstruksi sebagai media untuk menganilisa tafsir Al Qur’an, bahkan tidak sedikit kaum akademis memberikan julukan feminis progresif tafsir Al Qur’an. Disertasinya yang berjudul Al-Qur’an dan Perempuan: Membaca Ulang Teks Suci dari Woman’s Perspektif, cukup membuat geger dunia akdemis pada tahun 1989 bahkan sampai dicekal.
Menurut Charles Kurzman, riset Amina Wadud mengenai perempuan dalam Al-Qur’an muncul dalam suatu konteks historis yang erat kaitannya dengan perempuan Afrika-Amerika dalam upaya memperjuangkan keadilan gender. Hal ini karena selama ini sistem relasi laki-laki dan perempuan di masyarakat memang sering mencerminkan bias-bias patriarkhi, dan sebagai implikasinya maka perempuan kurang mendapat keadilan secara lebih proporsional. Amina Wadud dalam buku Qur’an and Woman : Rereading the Sacred Text with a Woman Perspective mengakui bahwa bukunya merupakan bagian dari apa yang disebut “Jihad Gender” dirinya sebagai seorang muslimah dalam konteks global. Menurutnya, budaya patriarki telah memarginalkan kaum perempuan, menafikan perempuan sebagai khalifahfilardh, serta menyangkal ajaran keadilan yang diusung oleh Al-Qur`an.
Riset dalam topic buku Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective ini dimulai pada awal 1986. Tujuan riset Amina Wadud adalah menentukan kriteria yang pasti untuk mengevaluasi sejauh mana posisi perempuan dalam kultur muslim telah betul-betul menggambarkan maksud Islam mengenai perempuan dalam masyarakat. Al-Qur’an dapat digunakan sebagai kriteria untuk menguji apakah status perempuan dalam masyarakat muslim yang sesungguhnya sudah dikatakan Islami. Jika yang menjadi tolak ukur pasti dalam Islam adalah apa yang dilakukan oleh kaum muslim, maka niscaya perempuan dan laki-laki tidak sederajat. Menurut AminaWadud, hanya jika Al-Qur’an sendiri memang tegas-tegas menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan tidak sederajat, maka barulah harus dipatuhi sebagai dasar keimanan Islam. Tulisnya dalam buku Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text with a Woman Perspective.
Ternyata menurut Amina Wadud, hasil kajiannya menunjukkan banyak sekali ayat Al-Qur’an yang mempertegas kesamaan derajat perempuan dan laki-laki. Di dalam buku ini, Amina Wadud bermaksud menggunakan tafsir tauhid untuk menegaskan betapa kesatuan Al-Qur’an merambah seluruh bagiannya. Salah satu tujuan dari metode tafsir tauhid adalah untuk menjelaskan dinamika antara hal-hal yang universal dan particular menurut Al-Qur’an. Ungkapnya dalam buku yang diterbitkan oleh Oxford University Press.
Nah, konsep dekonstruksi-rekontruksi yang digelontorkan Aminah dalam karya-karyanya akan semakin menambah wacana gender dan issu perempuan. Semoga karya-karyanya yang berjudul Qur’an and Women : Rereading the Sacred Text form a Women’s perspective (1992), kemudian dalam bahasa Perancis, Corano e la donna: Rileggereil Testo Sacro da unaprospettiva di genere (2011), Frauen im Islam: feministische Orientierungen und Strategienfür das 21. Jahrhundert (2009) mampu memperkaya khazanah ilmu pengetahuan terlebih diskursus perempuan sebagai media pembanding dengan tafsir ulama salaf. WallahuA’lam.

Lereng Penanggungan. 16 Juli 2017.
Penulis adalah Staf Pengajar di MBI Amanatul Ummah sekaligus Abdi Dalem Pesantren Nurul Ummah, Pacet, Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *