Jalan Raya Tirtowening No.17, Bendunganjati, Pacet, Bendorejo, Bendunganjati, Kec. Pacet, Mojokerto, Jawa Timur 61374

Menyongsong Akreditasi, IQT IKHAC Selenggarakan Penguatan Visi Misi dan Review Kurikulum Bersama Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (AIAT) se- Indonesia

Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

Menyongsong Akreditasi, IQT IKHAC Selenggarakan Penguatan Visi Misi dan Review Kurikulum Bersama Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (AIAT) se- Indonesia

Mojokerto, Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) menggelar penguatan visi misi dan review kurikulum prodi dengan menghadirkan ketua Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (AIAT) se-Indonesia, Dr.Phil. Sahiron Syamsuddin, MA. Pada sabtu, 31/03/2018. Kegiatan ini merupakan rangkaian persiapan akreditasi prodi yang direncanakan akan dilaksanakan tahun depan. Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) IKHAC merupakan prodi yang lahir di tahun kedua berdirinya institut, yaitu tahun 2016. Tingkat paling tinggi semester ini adalah semester 4 dengan jumlah mahasiswa keseluruhan kurang lebih 50 mahasiswa.

Selain dosen-dosen di bawah prodi IQT, acara ini juga dihadiri oleh Pembantu Rektor I IKHAC sebagai penanggung jawab bidang akademik kampus termasuk kurikulum, Dr. Eng. H. Fadly Usman, ST, MT; Dekan Fakultas Dakwah & Ushuluddin IKHAC, Dr. Rudolf Chrysoekamto, M.Si; Wakil Dekan Fakultas Dakwah & Ushuluddin IKHAC, Dr. H. Ahmad Chudori, M.Pd; hadir juga Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) IKHAC, Ari Kartiko, ST, M.M; Ketua prodi Hukum Keluarga Islam (HKI), Hj. Farida Ulvi Na’imah, M.H.I; dan Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Hasyim Asy’ari, M.Pd.I

Pada kesempatan ini, Pembantu Rektor I IKHAC, Dr. Eng. H. Fadly Usman, ST, MT. menyampaikan dalam sambutannya bahwa kurikulum memang menjadi poin yang sangat penting dan menentukan dalam penilaian akreditasi. ‘meskipun IKHAC belum mempunyai lulusan –yang berarti akan sangat mengurangi penilaian akreditasi- kurikulumnya harus bagus agar menunjang penilaian, toh nanti ketika sudah ada lulusan, kita dengan cepat akan melakukan reakreditasi agar dapat nilai A.’ lanjut beliau. Sebagai tuan rumah, Bapak yang dikenal murah senyum ini juga secara langsung meminta Ketua AIAT, pak Sahiron untuk mengevaluasi kurikulum yang telah disusun oleh tim penyusun kurikulum prodi, termasuk juga memberi masukan dan arahan terkait sarana dan prasarana ke-IQT-an yang harus dipenuhi oleh kampus.

Pak Dofi, panggilan akrab Dekan fakultas Dakwah dan Ushuluddin dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan ini sekaligus memberikan sedikit pengantar tentang struktur kurikulum yang akan direview.
Bertindak untuk mempresentasikan struktur kurikulum prodi yaitu Ketua Prodi IQT, Limmatus Sauda’, M.Hum. Presentasi dimulai dari pemaparan visi, misi prodi, profil lulusan dilanjut dengan penjelasan transkrip mata kuliah dan sebarannya selama kurang lebih 25 menit.

IQT IKHAC mempunyai visi ‘menjadi prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir yang berjiwa Religio-Preneur’ dengan kata lain, sarjana yang akan diluluskan oleh IQT tidak hanya berwawasan keagamaan, tetapi juga berjiwa mandiri, lulusan IQT tidak hanya dibekali wawasan ke-IQT-an, tetapi juga dibekali dengan beberapa mata kuliah keterampilan. Dengan kata lain, lulusan IQT tidak saja menjadi akademisi Qur’ani, melainkan juga praktisi Qur’ani. Karena itu, beberapa misi untuk mewujudkannya yaitu menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran tentang kajian Ilmu al-Qur’an dan Tafsir berlandaskan turats maupun literatur yang lain, mengadakan penelitian dan pengabdian di bidang Ilmu al-Qur’an dan Tafsir juga membangun kerjasama dengan siapapun yang terkait dalam kajian Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.

‘Secara keseluruhan kurikulum sudah bagus, namun tetap ada beberapa evaluasi, seperti standar minimal mata kuliah’ Komentar pak Sahiron. Standar minimal mata kuliah harus disesuaikan dengan keputusan Asosiasi. Beberapa mata kuliah ini menjadi mata kuliah wajib di semua prodi IQT di Indonesia. ‘tetapi tadi sudah banyak disebutkan dalam kurikulum yang sudah dipresentasikan seperti Studi al-Qur’an, Kaidah Tafsir, Madzahib Tafsir’ lanjut beliau.

Spesifikasi kajian juga menjadi hal yang penting dalam penyusunan kurikulum sebagai ciri khas prodi. ‘prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir itu sudah banyak, harus ada ciri khas di masing-masing perguruan tinggi’ tutur beliau. ‘melihat Amanatul Ummah (yayasan yang menaungi IKHAC) yang maju dan terkenal di bidang sains, mungkin IQT IKHAC bisa fokus ke kajian Tafsir Sains (at-tafsir al-Ilmiy)’ saran dari alumni pesantren al-Munawwir, Krapyak Jogja ini disambut tawa kaget oleh para hadirin. ‘ini menjadi sangat mungkin, karena kita mempunyai Wakil Rektor I engineer’ bisik salah satu peserta.

Opsi lain dari beliau yaitu digitalisasi al-Qur’an, terinspirasi dari ‘Corpus Coranicum’ (proyek luar biasa digitalisasi al-Qur’an di Jerman yang diketuai oleh Prof. Angelika Neuwirth dan pak Sahiron juga terlibat di dalamnya). ‘Kajian Ilmu al-Qur’an dan Tafsir ini sudah menjadi kajian internasional’ aku beliau sambil menunjukkan bagian-bagian dalam proyek digital tersebut. ‘Atau bisa juga Fokus pada kajian Tafsir Kepesantrenan’ sambung beliau lagi.

Beliau kemudian mengakhiri sarannya dengan ‘asal semuanya disetujui oleh pak kyai (Dr. KH. Asep Syaifuddin Chalim, MA., pengasuh pondok Amanatul Ummah), pak Rektor, Wakil Rektor dan yang lainnya.’ sciri khas alumni pondok pesantren. Sebagai ketua Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir se- Indonesia, beliau sangat ingin kajian ilmu al-Qur’an dan tafsir itu merata, menjadi kajian keilmuan yang komperehensif, universal dan rahmat li al-alamin. Untuk tujuan mulia inilah prodi IQT IKHAC menyelenggarakan review kurikulum. Aamiin
Acara ini kemudian diakhiri dengan penandatanganan lembar pengesahan review kurikulum oleh ketua Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir se- Indonesia (AIAT) dan Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin IKHAC, ‘ini merupakan bagian kerja sama antara fakultas dakwah dan ushuluddin IKHAC dengan AIAT’ (Limmatus Saudah, M.Hum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *