Jalan Raya Tirtowening No.17, Bendunganjati, Pacet, Bendorejo, Bendunganjati, Kec. Pacet, Mojokerto, Jawa Timur 61374

Belajar Ittiba’ an-Nabī dari Syaikh Afifuddin al-Jilani

Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

Belajar Ittiba’ an-Nabī dari Syaikh Afifuddin al-Jilani

Senin, 16 April 2018 yang bertepatan dengan 28 Rajab 1439, bertempat di Masjid Raya Abdul Halim, Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) menyelenggarakan Seminar Internasional yang bertajuk ‘Ziyâdat al-Mahhabah li Nabiyyinâ Muhammad Şallâ Allâh ‘Alaih wa Sallam Ittibâ’ bi Akhlâqih al-Karīmah’. Al-Muhâdir di forum ilmiah ini yaitu Syaikh Afifuddin al-Jilani.

Dengan membawa semangat al-hubb, Syaikh menyampaikan bahwa cinta kepada Allah dan RasulNya adalah pondasi utama dan syarat pertama bagi para penuntut ilmu. Bukti cinta tersebut yaitu ketaatan seseorang kepada Allah dan RasulNya. Namun demikian, cinta tidak sekadar mengikuti perintah Allah dan meneladani Rasulullah, ketulusan batin kepada Allah dan bersatunya hati dengan Rasulullah. Itulah cinta. Cinta diibaratkan akar yang menopang pohon tumbuh kokoh di atasnya. Syaikh mengungkapkan, “cinta itu akarnya, ittiba>’ (meneladani) adalah cabangnya”.

Dalam konteks pendidikan, visualisasi sikap ‘ittibâ’ an-nabâ’ dapat  diteladani dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Menurut syaikh, ada empat karakter yang harus ada pada diri murid, pelajar, santri, mahasiswa atau sebutan lainnya. Pertama yaitu kerendahan hati. Cicit Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ini mengungkapkan, ‘Nabi Musa, salah satu Nabi Ulul Azmi, seorang Nabi yang bergelar Kalimullah, menerima wahyu langsung dari Allah dengan segala tawadhu’nya mau berguru kepada Nabi Khidir yang tidak diberi keistimewaan seperti Nabi Musa’.

Kedua adalah berinteraksi aktif dengan guru, penggalan ayat 66 surat al-Kahfi berbunyi, ‘…. hal attabi’uk ‘alâ an tu’alliman min mâ ‘ullimt rushdâ’“(Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?), “Nabi Khidir tidak menyuruh Nabi Musa untuk berguru kepadanya, melainkan Nabi Musa yang terlebih dahulu meminta kesediaan Nabi Khidir untuk menjadi gurunya.” Lanjut syaikh.

Ketiga yaitu sabar dan taat, tidak hanya sabar, tetapi juga harus taat. Hal ini terlihat dari kesanggupan Nabi Musa untuk bersabar dan taat kepada gurunya sebagaimana dalam ayat 69 surat al-Kahfi. terakhir yaitu akhlak yang baik terhadap guru. jika semua karakter (al-hubb ditambah empat sikap di atas) tersebut dipenuhi oleh pencari ilmu, maka dia akan memperoleh rushdâ. “Rushdâ itu bukan hanya kecerdasan atau kepandaian, rushdâ itu sesuatu yang luar biasa, kumpulan dari segala hal yang baik” penjelasan terakhir dari syaikh.

Allahumma ij’alnâ minhum. Âmin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *