Jalan Raya Tirtowening No.17, Bendunganjati, Pacet, Bendorejo, Bendunganjati, Kec. Pacet, Mojokerto, Jawa Timur 61374

Mengaji al-Qur’an dengan Ma’na-cum-Maghza bersama Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA.

Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto

Mengaji al-Qur’an dengan Ma’na-cum-Maghza bersama Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA.

“Transformasi Epistimologi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, tema yang sangat tepat yang berarti adanya pengembangan metodologi dalam kajian ilmu al-Qur’an dan tafsir”, ujar Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA. mengomentari tema seminar. Seminar Nasional ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Institut KH. Abdul Chalim Mojokerto, Sabtu, 31 Maret 2018 yang bertempat di aula gedung B.

Ketua Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (AIAT) Indonesia yang studi doktoralnya di Jerman ini adalah salah satu pakar hermeneutik dan tafsir al-Qur’an di Indonesia. Salah satu buku yang beliau tulis yang khusus berkaitan dengan kepakarannya adalah Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an. Materi seminar kali ini pun difokuskan pada Ma’na-cum-Maghza, salah satu metode pembacaan terhadap al-Qur’an yang memadukan antara ma’na (historis/tarikhi) dan maghza (signifikansi).

Sebelum seminar dimulai, Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Dr. Rudolf Crysoekamto, M.Si berpesan “Seminar ini sangat bagus, kepakaran beliau Pak Sahiron tidak perlu diragukan. Karena itu simaklah secara seksama kata demi kata dari penyampaian beliau, insyallah tidak akan rugi”. Kesan mendalam ini beliau sampaikan dalam sambutan di acara pembukaan seminar.

Dipandu oleh Limmatus Sauda’, M.Hum yang juga ketua prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Institut KH. Abdul Chalim seminar ini disambut antusias peserta. Pasalnya, pak Sahiron mampu menghipnotis peserta seminar dengan penfasirannya terhadap beberapa ayat al-Qur’an yang notabene baru. Dan hal itu mengundang penasaran para peserta.

Seperti ketika membaca cerita kepemimpinan ratu Balqis dalam al-Qur’an. Menurut beliau, ‘perhatikan ayat 32-33 surat an-Naml. Di situ ratu Balqis meminta pendapat para pembesarnya tentang urusan yang sedang dihadapinya. Hal ini berarti Ratu Balqis mengajarkan seorang pemimpin untuk senantiasa bermusyawarah melibatkan rakyatnya dalam menentukan kebijakan.” Ayat berikutnya, yaitu ayat 34 menunjukkan sikap yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu sangat peduli terhadap kesejahteraan rakyatnya. “Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” Ratu Balqis kawatir akan nasib rakyatnya setelah ia kalah nanti” penjelasan pak Sahiron lebih lanjut.

Kepada peserta seminar, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pengasuh Pesantren Baitul Hikmah Krpayak Jogjakarta ini menekankan tentang pentingnya mengetahui prinsip-prinsip penafsiran. Di antaranya adalah “menafsirkan al-Qur’an harus berdasarkan ilmu, tidak boleh sembarangan, ancamannya tidak main-main”, ujar beliau. Kemudian menyitir sebuah hadis “barang siapa berbicara tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka bagi dia sebuah tempat di neraka” HR.Turmuzi.

Tidak kalah pentingnya untuk diketahui, kata beliau “penafsiran al-Qur’an harus membawa kemaslahatan kepada manusia dan alam, bukan malah membawa kekacauan”. Pernyataan beliau menyiratkan kemungkinan “penafsiran al-Qur’an” dapat saja diselewengkan. Beliau pun menyitir surat Ali Imran ayat 07, bahwa orang yang membawa kekacauan dengan berdalil al-Qur’an adalah orang yang di dalam hatinya ada zayghun (penyelewengan).

Masih dalam penyampaian beliau, “belakangan ini kan marak, orang mengutip ayat al-Qur’an tetapi ditujukan untuk menghina atau memengaruhi orang lain agar membenci kepada individu atau kelompok tertentu, yang model begini ini kita harus waspada dan jauhi”. Beliau kemudian mengajak peserta seminar untuk mengingat peristiwa sejarah pada tahun 40 H, dimana Abdurrahman bin Muljam salah satu dari kelompok khawarij, seraya membaca ayat ke-207 dari surat al-Baqarah, ia tega membunuh khalifah Ali bin Abi Talib dengan pedang. Beliaupun mewanti-wanti dan berharap kepada semua peserta seminar yang hadir agar jangan menjadi Ibnu Muljam jaman now, “karena al-Qur’an itu sebenarnya adalah kitab pembawa rahmat”, ujar beliau memungkasi penyampaian.

Kegiatan yang dihadiri mahasiswa dari semua prodi dari Institut KH. Abdul Chalim dan kampus lain ini berlangsung sekitar dua jam. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Institut KH. Abdul Chalim dengan Asosiasi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (AIAT) Indonesia, serta sesi foto bersama di penghujung acara. (Idris)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *